Hikmah di Balik Nikmat dan Musibah

Allah SWT tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Selalu ada hikmah di balik setiap penciptaan oleh-Nya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, baik yang berwujud nikmat maupun yang berwujud musibah.
Allah menegaskan bahwa nikmat dan musibah adalah cobaan dari-Nya untuk menguji keimanan dan kepatuhan seseorang kepada-Nya. Firman Allah:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah [2]:214)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al-Anbiyaa’ [21]:35)
Orang yang menyadari hakikat di balik pemberian nikmat dan musibah dari Allah akan menghadapi nikmat dan musibah tersebut dengan sikap yang sepatutnya. Apabila mendapatkan nikmat, ia bersyukur, tidak takabur atau tenggelam dalam kesukacitaan yang melampaui batas. Dan apabila menghadapi musibah, ia tetap sabar, tidak berputus asa atau berkeluh kesah, karena ia meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah SWT.
“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS At-Taubah [9]:51)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS An-Nahl [16]:53)
Sebaliknya, orang yang tidak memahami hakikat di balik nikmat atau musibah sangat rentan untuk bersikap berlebih-lebihan dalam menghadapinya. Apabila mendapatkan kelimpahan nikmat, ia menjadi sombong dan takabur. Namun apabila menghadapi musibah, ia berputus asa, bahkan tidak sedikit yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan dengan bunuh diri. Allah mengingatkan bahwa manusia berkecenderungan menjadi orang dengan tipe seperti itu.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang tetap mengerjakan shalat, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (tetapi tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan.” (QS Al-Ma’aarij [70]:19-27)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong. Dan apabila ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa. Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS Al-Israa’ [17]:83-84)
Dengan memahami dan menyadari hikmah di balik nikmat dan musibah, hendaknya manusia tetap tabah, tawakal, dan berserah diri kepada-Nya, dengan tetap berusaha.
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Dia-lah Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al-Hadiid [57]:23-24)
Sesungguhnya, cobaan dan ujian yang diberikan Allah kepada manusia adalah sarana peningkatan iman dan penyucian jiwa dari dosa dan kesalahan. Sabda Rasulullah SAW:
“Siapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik maka ditimpakan musibah (ujian) kepadanya.” (HR Bukhari)
“Seorang muslim yang tertimpa suatu kesakitan, baik itu berupa tertusuk duri atau yang lebih dari itu, niscaya Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dan menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah SWT mencintai suatu bangsa, maka Allah menguji mereka. Siapa yang ridha maka Allah akan meridhainya, dan siapa yang murka maka Allah akan memurkainya.” (HR At-Turmudzy)
“Orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik di dalam dirinya, anaknya, maupun hartanya, sehingga ia menghadap Allah SWT tanpa membawa dosa.” (HR At-Turmudzy)
(Sumber: Al-Quran dan Hadits)
(Al-Quran dan Hadits)
asli jawa timur sekarang lagi jalan-jalan di kabul-afghanistan
Total Posting: 35 | Rating: 128



del.icio.us
Digg

Komentar terkini (0 komentar):
Jika anda akan memberikan komentar dan memberikan rating pada artikel ini, silahkan login atau klik disini untuk pendaftaran baru